Tuesday, May 23, 2006

Implisit VS Eksplisit

Kebanyakan dari kita selalu memiliki ide atau pendapat secara implisit, bukan eksplisit, dimana semua ide dan gagasan hanya muncul dalam pikiran yang tidak diucapkan atau dituliskan, jadi cuma dipendam saja dalam hati dan pikiran. Itu yang saya alami akhir-akhir ini, rasanya begitu banyak ide dan gagasan yang muncul tapi tidak ada satupun yang bisa saya tuliskan.

Padahal begitu banyak kejadian yang sebenarnya bisa saya tuliskan untuk mengisi blog saya yang sudah hampir 2 minggu tidak saya update, jujur saja saya memang sedikit males buat nulis akhir-akhir ini, mungkin karena kesibukan pekerjaan saya di sekolah, menjadi wali kelas untuk anak didik Jurusan Multimedia tingkat 3 yang menghadapi Ujian Akhir Nasional, soalnya ujian kali ini memang tidak ada perbaikan/mengulang, jadi jika seorang siswa tidak berhasil dalam menempuh ujian, maka anak tersebut harus mengulangnya tahun depan, berbeda dengan kebijakan tahun lalu, yang bisa memperbaikinya dalam waktu dekat dan biasanya bisa jadi lulus setelah mengikuti ujian perbaikan tersebut.

Perubahan kebijakan ini yang membuat para siswa dan guru menjadi ketar-ketir mengingat kondisi, sarana dan prasarana tiap sekolah berbeda tapi pemerintah menentukan passing grade yang sama untuk semua sekolah di Indonesia. Apa bisa...? Apa Fair....?, bagaimana mungkin sekolah di Papua dengan sarana terbatas harus mengeluarkan siswa dengan kualitas yang sama dengan sekolah-sekolah di pulau Jawa yang relatif memiliki infrastruktur dan sarana yang memadai wong di pulau Jawa sendiri tidak semua sekolah yang memiliki sarana dan prasarana yang cukup, ini yang harus dicermati kembali oleh Menteri Pendidikan kita.

Ganti PDA
Selain itu, ada hal lain yang membuat saya tidak bisa langsung mengeksplisitkan ide saya yang implisit adalah karena PDA Palm m500 yang biasa saya gunakan untuk menuangkan ide dan gagasan telah dibeli oleh salah satu rekan millis, jadi beberapa hari saya tanpa PDA, tapi sebenarnya itu bukanlah menjadi halangan karena dimana ada niat pasti di situ ada jalan, toh di rumah saya masih ada 3 buah komputer desktop, bisa saja saya bikin tulisan di komputer tersebut, dasarnya aja lagi males atau istilah kerennya lagi nggak mood buat nulis.

Beberapa hari searching di Internet mencari PDA pengganti ternyata tidak semudah yang saya bayangkan, awalnya saya telah booking Palm Tungsten T2 dari salahsatu boss gadget di milis tapi ternyata Allah berkehendak lain, Palm T2 yang sudah saya booked lewat SMS sudah di sambar orang, dan akhirnya saya harus mencari lagi, sampai akhirnya saya menemukan dua pilihan antara Tungsten T2 dan Sony Clie PEG NR70V, keduanya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan saya menulis. Namun ada perbedaan yang cukup spesifik yang membuat saya sedikit bimbang.

Sony CLIE PEG NR70V VS Tungsten T2
Ya, semua orang tahu kalo Sony adalah produsen peralatan multimedia, walau saat ini produksi PDA Sony Clie sudah dihentikan, tapi gadget ini masih banyak beredar dipasaran second-hand dengan harga yang cukup kompetitif, mengingat PDA ini memang dilengkapi dengan fasilitas multimedia seperti halnya MP3 Player, untuk Seri PEG NR70V ditambah adanya kamera dan layar yang bisa diputar (swivel), dengan resolusi tinggi, fasilitas itu membuat saya kepincut, namun sayangnya kualitas gambar dari kamera masih standar mengingat kameranya menggunakan CMOS, Memory Card-nya menggunakan jenis Memory Stick yang kita tahu hanya peralatan buatan Sony saja yang menggunakan memory card jenis ini, Palm OS yang terpasang pada PDA ini masih menggunakan Palm OS 4.1 sehingga ada beberapa aplikasi yang tidak bisa jalan di PDA ini.

Tungsten T2 ini adalah T2 yang lain lagi dari yang saya booked pertama kali, sejak awal saya pilh T2 karena PDA ini memiliki koneksi bluetooth, fasilitas ini saya perlukan untuk mengakses GPRS dari ponsel T68i saya sehingga saluran infra merahnya masih bisa saya gunakan untuk mengakses Palm Wireless Keyboard. So saya bisa menggunakan Palm Wireless Keyboard untuk chatting. PDA ini sudah menggunakan Palm OS 5, cuma sayang harga yang ditawarkan masih cukup tinggi untuk saya, padahal T2 yang saya booked pertama harganya jauh lebih murah.

Bingung, bimbang dan ragu menyelimuti pikiran saya, akhirnya saya minta bantuan istri untuk memilihkan satu diantara dua pilihan, cuman sama istri saya sama sekali tidak mengatakan harganya, saya menunjukkan majalah C|Net yang didalamnya memuat gambar kedua PDA pilihan saya, dan tanpa basa basi istri saya langsung memilih Clie PEG NR70V, dengan alasan disainnya unik, layar bisa di-swivel, ada kamera untuk ngambil foto-foto anak saya, ada thumb board, dan MP3 Player, saat itu juga saya langsung menghubungi penjualnya dan mentransfer uangnya via ATM, padahal saat itu waktu sudah menunjukkan jam 23:10.

Dua hari kemudian PDA Clie datang dan anak saya langsung menyukainya, tanpa diajarin lagi anak saya yang baru berumur 4 tahun langsung memainkan kameranya dan mengambil gambar sendiri. Jika saya memilih Tungsten T2 mungkin anak saya tidak terlalu antusias dengan PDA tersebut karena T2 tidak memiliki kamera dan bentuknya sedikit kaku, ternyata memilih Clie ini tidak salah, karena semua anggota keluarga bisa menikmati kecanggihan PDA ini, anak saya sangat suka dengan kameranya sampai-sampai semua objek yang dia lihat diambil fotonya, istri saya suka sekali dengan MP3 Player dan Gamenya, karena sebelumnya biasa main di layar m500 yang grayscale kini dengan layar Clie yang hi-res+, memainkan game Bejeweled dan Tetris menjadi lebih sejuk dengan sound yang mantap pula, sementara saya bisa lebih enak menggunakan aplikasi officenya terutama Sheet To Go karena dengan layar hi-res ini layarnya tidak kelihatan sempit. (Review mengenai PDA ini sudah saya buat pada tulisan terpisah).

Kembali lagi kepada kegiatan menulis saya, setelah ada PDA ini tadinya saya berfikir bisa mulai mengeksplisitkan lagi ide dan gagasan saya, tapi ternyata ide saya malah lebih mentok, karena setiap kali akan menuliskan ide dan gagasan, saya harus berebut PDA dengan anak saya, pas malam tiba giliran istri saya yang pengen main game sambil denger musik, giliran malam sudah larut anak dan istri saya sudah tidur kini giliran saya yang pake PDA, baru saja saya memasang PDA tersebut ke Palm Wireless Keyboard dan ketika akan menulis kalimat' di layar muncul tulisan yang menerangkan bahwa batre mulai habis dan harus segera diisi ulang, walah... buyar lagi deh semua ide yang sudah numpuk berhari-hari.... []

2 comments:

Suyatmo Hugeng said...

Salam, Pertama thanks buat Mas Oki atas kepercayaannya bertransaksi dgn saya yg nun jauh di utara sumatera "Medan", saya senang karena Mas Oki cukup puas (dan beserta keluarganya) biarpun unit masih banyak kekurangannya. Sukses terus untuk anda. - Suyatmo, ZoneOrdering.com

rosgani said...

sama-sama Pak, terima kasih juga atas kesabarannya membimbing saya dikala saya sempat bingung bagaimana cara pake PDA ini, karena saya kebiasaan pake PDA jadul he he he...